Senin, 23 Januari 2012

Wisata Sejarah Stasiun dan Terowongan Lampegan Cianjur

Wisata Sejarah Stasiun dan Terowongan Lampegan Cianjur

RETNO HY/"PRLM"
RETNO HY/"PRLM"
Terowongan Lampegan yang dibangun tahun 1879 hingga 1882, saat ini masuk kawasan Cagar Budaya yang menjadi tujuan utama kunjungan wisatawan karena nilai historis serta suasana masa lalu yang masih...
MELAKUKAN perjalanan wisata sejarah saat ini tengah begitu diminati. Bukan hanya dikalangan orang tua yang melakukannya untuk bernostalgia, tetapi juga di kalangan komunitas anak-anak muda dan remaja. Kabupaten Cinajur, dalam satu tahun belakangan ini menjadi daerah favorit untuk tujuan wisata sejarah. Hal ini seiring dengan kembali beroperasinya kereta api ekonomi Argo Peuyeum jurusan Bandung-Cianjur. Trayek kereta api yang sebelumnya berangkat dari stasiun Ciroyom (Bandung) dan Lampegan (Cianjur), kini hanya dimulai dari Stasiun Padalarang (Bandung Barat) sampai Stasiun Cikidang (Cianjur).
Pascaperistiwa tanah longsor di dua belas titik jalur Argo Peuyeum yang sebelumnya menyinggahi stasiun kecil, Cibeureum dan Cimahi. Kini perjalanan kereta Argo Peuyem yang terdiri dari dua gerbong dengan ongkos Rp 1.500, dimulai dari Padalarang, melewati stasiun Tagog Apu, Cipatat, Rajamandala, Ciranjang, Cipeuyeum, Selajambe, Cilaku dan berakhir di Stasiun Cikondang Cianjur (Kota).
Ada banyak pilihan wisatawan untuk melakukan perjalanan wisata sejarah di Kota Tauco ini. Namun perjalanan wisata yang paling banyak dilakukan komunitas wisata selain menikmati perjalan kereta Argo Peuyeum, juga menikmati suasana pemandangan perkampungan yang dilalui, serta yang utama mengunjungi Stasiun dan Terowongan Lampegan di Desa Cibokor, Kec. Cibeber, Kab.Cianjur, dan bila masih panjang waktunya, perjalanan bisa diteruskan ke Situs Gunung Padang di Desa Karyamukti, Kecamatan Cempaka, Kab.Cianjur.
“Stasiun Lampegan dan Terowongan Lampegan yang dibangun tahun 1879 hingga 1882 saat ini masuk kawasan Cagar Budaya. Pasca rangkaian peristiwa longsor tahun 2001 dan terakhir pada tahun 2006, kondisi terowongan (Lampegan) saat ini sudah diperbaiki, namun belum dilalui kereta api,” ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kab. Cianjur Himam Haris, saat mendampingi Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat, Herdiwan Iing Suranta, beserta jajaran Sub Bidang Kepariwisataan, belum lama ini.
Stasiun Lampegan dan Terowongan Lampegan menjadi tujuan utama kunjungan wisatawan karena nilai historis serta suasana masa lalu yang masih terasa. Bangunan stasiun, rumah kepala stasiun serta terowongan Lampegan masih seperti saat pertamakali dibangun. Hanya warna catnya yang masih baru karena direnovasi tahun 2009 lalu, karena rencananya November 2010 lalu akan kembali dioperasikan, namun urung dilaksanakan.
Terowongan Lampegan sepanjang 686 meter merupakan salah satu terowongan jalan kereta api tertua yang pernah dibangun pemerintah Hindia Belanda di Indonesia. Terowongan Lampegan dibangun perusahaan kereta api SS (Staats Spoorwegen) pada periode 1879 hingga 1882 untuk mendukung jalur kereta api Jakarta-Bogor, Bogor-Sukabumi dan Sukabumi-Bandung melalui Cianjur. Namun karena peristiwa gempa bumi yang mengakibatkan tanah longsor kini panjang Terowongan Lampegan sekira 415 meter.
Menurut Kurnadi (64) salah seorang penduduk setempat, nama terowongan berasal dari bahasa percakapan orang Belanda ketika kereta api memasuki terowongan. "Setiapkali ada kereta yang akan masuk ke dalam terowongan, baik dari arah Cianjur maupun Sukabumi, kondektur spur selalu meneriakan ‘steek Lampen aan!’ yang berarti nyalakan lampu, dan ditelingan kita (orang Sunda) terdengan seperti kata lampegan,” ujar Kurnadi.
Selain suasana esotik masa lalu yang dihadirkan Stasiun dan Terowongan Lampegan, juga cerita heroik pembangunan terowongan di perut Gunung Kancana dengan cara diledakan. “Saat itu, pekerjaan membuat terowongan yang dilakukan para orang tua dan pemuda menjadi tontonan, apalagi saat diledakan bom (dinamit) untuk mempercepat pengerjaan,” ujar Kurnadi.
Tidak kalah menariknya adalah cerita mistik Nyi Ronggeng Sadea. Cerita raibnya Nyi Ronggeng Sadea secara turun menurun hingga kini terus berkembang dimasyarakat sekitar Kamp Lampegan, Desa Cibokor Kec. Cibeber, Cianjur.
Diceritakan pada tahun 1882 Terowongan Lampegan selesai dibangun, untuk menghibur pejabat Belanda dan menak-menak Priangan, diundang Nyi Sadea, seorang ronggeng terkenal waktu itu. Usai pertunjukan, menjelang dinihari Nyi Sadea diantar pulang oleh seorang pria melalui terowongan yang baru diresmikan. Sejak itu Nyi Sadea hilang dan tidak diketahui keberadaannya. (Retno HY/”PRLM”)***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar